bekasigrid.online/ – Kasus dugaan pelecehan seksual oleh oknum pelatih ekstrakurikuler di SMPN 4 Kota Bekasi kian menguat setelah muncul pengakuan korban yang mengungkap adanya tindakan berulang disertai tekanan psikologis dan ancaman.
Salah satu korban, berinisial M, menuturkan bahwa awalnya terduga pelaku kerap mengajaknya untuk pergi bersama. Ajakan tersebut semula dianggap sebagai candaan, namun intensitasnya semakin meningkat hingga membuatnya merasa tidak nyaman.
Ia mengaku sempat menolak. Namun, situasi berubah ketika pelaku mulai memberikan tekanan, dengan ancaman akan memperlakukannya secara berbeda dalam kegiatan latihan.
“Awalnya saya pikir bercanda, tapi lama-lama dia terus nanya. Saya sempat nolak, tapi saya diancam, katanya saya tidak akan diperlakukan baik lagi,” ungkapnya, Jumat (3/4/2025).
Lebih lanjut, korban juga mengungkap adanya dugaan manipulasi sosial. Pelaku disebut mencari informasi pribadi korban melalui teman-temannya, termasuk masalah keluarga, yang kemudian digunakan untuk mendekati dan menekan secara emosional.
Pada tahap berikutnya, pelaku meminta korban untuk bertemu secara pribadi dengan dalih memberikan perhatian. Namun, dalam pertemuan tersebut, korban justru mengalami tindakan yang tidak pantas.
“Dia tiba-tiba meluk saya dan mencium beberapa bagian wajah saya tanpa izin,” lanjutnya.
Setelah kejadian itu, korban mengaku merasa tertekan dan takut. Dalam kondisi tersebut, ia akhirnya menuruti ajakan pelaku untuk bertemu di luar lingkungan sekolah dengan alasan latihan.
Dalam pertemuan tersebut, korban menyebut mengalami pelecehan fisik lebih lanjut, termasuk kontak fisik yang tidak diinginkan di tempat umum seperti bioskop hingga di dalam kendaraan.
Ia juga mengaku sempat berusaha menolak dan memberi isyarat meminta bantuan kepada orang sekitar, namun tidak mendapat respons, sehingga membuatnya merasa terjebak dan tidak berdaya.
“Waktu itu saya sudah berusaha nolak dan minta tolong, tapi tidak ada yang menyadari,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SMPN 4 Kota Bekasi, termasuk kepala sekolah, belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus yang mencoreng dunia pendidikan di Kota Bekasi tersebut. Upaya konfirmasi kepada tersangka pun belum mendapatkan respons dari yang bersangkutan
